Rabu, 02 Februari 2011

Mengapa Perlu Berorganisasi NU ?


Saya sudah menjalankan ubudiyah ala NU, kenapa saya masih harus aktif berorganiasasi NU?
Memang anda sudah sangat NU. Tapi itu baru secara kultural dalam tradisi keagamannya, dalam ber-habllun minallah. Sementara secara struktural atau organisatoris belum. Organisasi adalah konsep formal, harus ada bukti hitam di atas putih, minimal pernyatan lisan. Seseorang disebut sebagai pengurus organisasi mesti ada SK, minimal pernyatan lisan dari yang berwenang mengangkat. Demikian pula menjadi warga organisasi, harus ada bukti terdaftar dalam registrasi anggota, minimal pernyataan lisan kepada yang berwenang (pengurus). Dengan demiikian, setiap organisasi harus dapat membuktikan, siapa-siapa pengurusnya dan siapa berapa jumlah warganya, secara formal atau tertulis. Tidak bisa hanya klaim.
Barangkali ini kritik untuk NU secara organisatoris?
Ya itulah kualitas organisasi kita. Meskipun sudah 80 tahun lebih masih jauh dari memadai untuk disebut organsiasi. Organisasi itu ibarat kendaraan, muatannya adalah program dan impian-impian. Tanpa organisasi yang kuat, konsep program sehebat apa pun hanya omong kosong.
Tapi perlu dijelaskan lebih lugas, apa perlunya kita ber-NU secara organisatoris?
Seperti pernah saya katakan, NU sebagai organisasi adalah ibarat masjid, masjid virtual (maknawiy), secara fisik tidak tampak, tapi secara sosial nyata adanya. Dalam pengertian ini, NU adalah tempat dimana kita Nahdliyin melakukan amal shalih secara berjamaah. Bedanya dalam masjid fisik-materil amal shalih yang kita jamaahkan bersifat persional (fardiyah-hablum minallah, seperti shalat); dalam masjid virtual berupa oragnisasi NU amal saleh yang kita jamaahkan adalah amal shalih sosial (ijtimaiyah – hablun minannas) yang wujud utamanya ada dua, yakni kesediaan menjunjung tinggi kesepakatan atau keputusan bersama dan kesetiaan membayar infak sesuai ketentuan, betapa pun kecilnya.


Jadi berorganisasi merupakan keharusan?

Ya. Sabda Nabi:  ’Alaikum bil jamaah’ (Hendaklah kalian selalu berjamaah), tidak hanya perintah untuk shalat jamaah di masjid fisikal, tapi untuk amal saleh dalam masjid virtual, yakni organisasi. Bukankah shalat berjamaah tidak lain artinya adalah shalat secara terorganisir. Rukun organisasi ada 4 perkara:  Pertama ada makmum atau warga; Kedua ada imam, pemimpin atau pengurus; Ketiga ada tujuan bersama; Keempat ada aturan main yang ditaati oleh semua. Ber-amal secara berjamaah dalam wadah NU, sama saja dengan shalat secara berjamaah di masjid, pahalanya berlipat.
Bagaimana dengan yang tidak terlalu berharap pahala?
Kalau begitu saya coba yakinkan dengan argumen lain. Bukan naqliy, tapi aqliy, nalar empirik saja. Begini: Beroraganisasi atau berjamaah itu mutlak penting karena tidak mungkin manusia hidup tanpa kebersamaan dengan orang lain. Ada tiga trilogi kebersamaan: dari, bersama dan untuk orang lain. Pertama manusia tidak mungkin lahir di dunia jika tidak dari sesama jenis manusia. Tidak ada mansuia lahir dari kambing atau monyet.
Kedua, untuk bisa tumbuh menjadi manusia, anda harus bersama manusia lain. Meski terlahir sebagai manusia, tapi jika sehari-hari hidup hanya dengan orang utan, meskipun secara fisik tetap manusia tapi jiwanya orang utan. Manusia itu anak lingkungannya. Hidup sama orang jahat bisa terbawa jahat, sama orang-orang baik bisa terbawa menjadi baik.
Ketiga, puncaknya, kalau anda ingin menjadi manusia mulia dan terpuji, anda musti hidup untuk mansuia lain. Semakin besar amal dan kiprah anda untuk sesama, semakin mulia dan terpujilah anda sebagai manusia. Organsiasi adalah sebaik-baik ruang dimana anda bisa hidup bersama dan berbuat untuk orang lain. Dalam kaitan inilah Mbah Hasyim (KH Hasyim Asy’ari) pernah wanti-wanti kepada orang-orang yang aktif di NU, sebagai anggota dan terutama sebagai pengurus: “Hidup-hidupilah NU jangan mencari hidup dari NU!”
Banyak di kalangan kita yang justru lebih memilih hidup dan bertindak secara sendiri-sendiri, dengan berbagai alasan tentunya.
Benar sekali! Karena sesungguhnya, ruh berorganisasi, meminjam bahasa Nahwu dan Tasawuf, adalah keikhklasan untuk meleburkan ke-aku-an (ananiyah) ke dalam ke-kita-an (nahnuwiyah). Organisasi apa pun tidak akan pernah berjalan sehat, kalau masing-masing komponennya masih mempertahankan ke-aku-annya.
Ambil sebuah misal. Kita menghadapi persoalan bus mogok karena aki tekor, yang jika didorong oleh 10 orang saja secara berjamah, pasti jalan. Sementara kita bukan hanya punya 10 orang, tapi 10 ribu bahkan 10 juta bahkan lebih banyak lagi. Namun mendorongnya sendiri-sendiri. Atau ada yang berjamaah tapi hanya 3 orang. Maka sampai kiamat juga tidak bisa jalan itu bus.
Bandingkan dengan kelompok lain yang warganya hanya pas-pasan 10 orang dan mereka mau berjamah, maka jalanlah mobil itu. Inilah rahasia firman Allah SWT: Begitu banyak kelompok kecil bisa mengalahkan kekuatan kelompok besar karena izin Allah, yakni berjamaah. Rasulullah SAW juga senada: Yadullah fauqal jamaah (Kekuatan Allah SWT yang  pasti luar biasa hanya dianugerahkan kepada mereka yang ikhklas berjamaah). Kita pandai mengkhutbahkannya tapi tidak mengamalkannya.
Jadi jika segenap Nahdliyin dengan ikhlas bergabung dalam NU pasti luar biasa kekuatan kita?
Betul, kalau itu terjadi, pastilah NU menjadi berkah luar biasa bagi umat dan bangsa ini.  Mari kita buat itung-itungan sederhana saja. Ambil 50 juta Nahdliyin, setiap hari infak dengan uang yang untuk beli sebiji kerupuk pun tidak dapat: Rp 350/ orang, berarti Rp 10.000 perbulan perorang. Maka total perbulan bisa dihimpun dana: Rp. 500.000.000.000 (baca:  Rp 500 milyar). Artinya dalam waktu 1 bulan saja NU bisa bangun/ renovasi 500 kantor masing-masing seharga 1 milyar rupiah. Dan setahun NU bisa bangun / renovasi 6000 gedung sekolahan/ balai pengobatan/ pemondokan santri masing-masing seharga 1 milyar.
Kenapa itu tidak pernah terjadi selama ini?
Itu persoalan organisasi dan manajeman, kelemahan terparah kita, yang kita tidak mau menyadarinya selama ini. Dan ini bukan teori kosong. Lihat, organsiasi-organisasi keumatan yang lain, muslim maupun non-muslim yang jumlah umatnya jauh lebih sedikit, mereka telah menggarapnya sejak lama dengan keberhasilan luar biasa. Maka meskipun jumlah umatnya jauh di bawah kita, mereka telah bisa berbuat sangat banyak. Percayalah kita pasti bisa, asal kita serius membenahi organisasi.
Sementara ini memang kita belum bisa mandiri
Biarlah itu menjadi masa lalu. Tanggungjawab kita semua kaum Nahdliyin untuk membebaskan NU dari kebiasaan seperti itu. NU adalah masjid luar biasa agung, tempat jutaan Nahdliyin (seharusnya) beramal saleh secara berjamaah, jangan pernah lagi kita rendahkan. Kewajiban kita segenap Nahdliyin untuk memakmurkannya bagi kejayaan uumat dan bangsa. *** [Sumber: NU Online)

Senin, 31 Januari 2011

Dari Ekstrem ke Jalan Tengah

Oleh : KH Said Aqil Siradj
Gerak-gerik pemikiran dan gerakan Islam di negeri kita belakangan ini menarik diamati. Semenjak reformasi yang telah mengubah wajah negeri ini bergulir, terjadi babak baru erupsi bagi kebangkitan etno-religius. Gelombang pemikiran dan gerakan baru keagamaan itu tampil dengan paradigma berbeda. Di garda depan, ada arus liberalisme Islam seayun dengan kebangkitan fundamentalisme dan puritanisme Islam. Bahkan, menyeruak pula agama-agama baru seperti Lia Eden.

Problem mendasar yang menggelayuti umat Islam tampaknya masih saja berkutat pada problem transformasi global dan situasi lokal yang tidak menentu akibat transisi pascareformasi. Problem krusial inilah yang menyentakkan kesadaran mengenai cara menyikapi hidup di zaman modern ini. Pasalnya, memilih tetap berpegang teguh pada tradisinya berarti terjebak pada eksklusivisme pemikiran. Model ini yang diperankan oleh kalangan fundamentalisme dan radikalisme Islam.

Di sisi lain, merengkuh modernitas secara buta akan membuat umat Islam tercerabut dari akar tradisinya. Model ini, misalnya, diperagakan oleh modernisme dan liberalisme Islam. Sejatinya, yang berimbang adalah menerima keduaduanya, yakni hidup secara modern tetapi tetap berpangku pada akar tradisinya secara kuat. Memang ini bukan perkara mudah. Akan tetapi, seperangkat pemikiran yang terbuka dan kritis, baik terhadap tradisi maupun modernitas, sepatutnya menjadi pijakan mendasar.

Mencairkan Pengutuban

Di sinilah pentingnya mengudar kembali nilai-nilai Aswaja(ahlussunnah wal jamaah). Aswaja merupakan metode berpikir sekaligus metode gerakan yang sangat penting bagi perumusan sikap umat Islam. Aswaja penting dalam kerangka memperkukuh kembali basis moderatisme. Sejarah telah membuktikan bahwa cara berpikir model Aswaja mampu menjadi jalan tengah dalam pergolakan pemikiran Islam kala itu yang kemudian pernah mengalami kebuntuan.

Kala itu, sikap Aswaja telah mencairkan dua kutub ekstrem pemikiran, antara Mu’tazilah dan Qadariyah dengan kubu Khawarij dan Jabariyah. Dalam konteks kekinian, upaya pemberdayaan pemikiran Aswaja diharapkan bisa menengahi perseteruan dua gerakan Islam kontemporer yang juga sama-sama ekstrem, yaitu ekstrem liberalis dan ekstrem fundamentalis. Sembari pula, yang sangat penting adalah penguatan secara kontinu sikap-sikap moderat, toleran, dan kosmopolitan.

Dalam mempertahankan dan mengembangkan konsep Aswaja, selayaknya perlu upaya progresif. Artinya, tidak hanya bertumpu pada pemahaman yang puritan dan antikritik. Moderatisme Aswaja memang telah diletakkan secara mendasar oleh tokoh-tokoh pemikir kampiun seperti Syafi ’i, Maliki, Hanafi dan Hambali dalam bidang fi kih, atau al-Asy’ari dan al-Maturidi dalam bidang teologi, serta oleh al- Ghazali dan al-Junaidi dalam bidang tasawuf.

Tokoh-tokoh tersebut telah menjadi acuan utama (marji al-’ala)bagi prinsip dan tata nilai Aswaja yang telah sukses menunjukkan jalan bagaimana umat Islam harus senantiasa berada pada sikap jalan tengah. Lebih dari itu, sudah waktunya untuk berikhtiar menjauhi sikap sakralisasi pemikiran keagamaan yang hanya akan menghasilkan eksklusivisme keberagamaan. Meminjam istilah Muhammad Abid al-Jabiri, sakralisasi terhadap tradisi akan membawa pada “tradisionalisme”.

Atau menukil pandangan Nashr Hamid Abu Zayd, sakralisasi akan melahirkan masyarakat dengan peradaban teks, yakni masyarakat yang cara berpikirnya dimulai dari teks, melalui teks, dan berakhir pada teks. Pada masyarakat seperti inilah lahir konservativisme peradaban Islam. Seperti dipahami, munculnya Aswaja hakikatnya merupakan respons atas perkembangan pemikiran umat Islam yang cenderung ekstrem, baik ekstrem kanan maupun kiri.

Melalui jalan tengah inilah prinsip-prinsip pemikiran Aswaja menetaskan sikap tawassuth (moderat) dan tasamuh (toleran). Sikap jalan tengah ini jelas masih relevan jika dikaitkan dengan munculnya berbagai persoalan yang menderas dewasa ini, seperti lahirnya model keberagamaan baru yang sama-sama ekstrem, baik ekstrem liberal maupun radikal (tatharruf). Aswaja akan bisa menjadi jalan tengah untuk menetralisasi dua ekstremitas pemikiran Islam.

Dengan prinsip Aswaja, umat Islam tidak terjebak pada cara berpikir yang kaku dan eksklusif, juga tidak terjebak pada pemikiran liberalisme yang kebablasan. Dalam ungkapan lebih tandas, umat Islam dapat menerima modernitas sembari tetap menghargai tradisinya secara kokoh. Inilah yang dikenal dengan kaidah al muhafazhah ‘ala al qadim al shalih wa al akhdz bi al jadid al ashlah, yakni mempertahankan tradisi atau pemikiran lama yang baik dan mengadopsi tradisi atau pemikiran baru yang lebih baik.

Berpangkal dari prinsip-prinsip Aswaja ini pula, umat Islam tidak akan mudah mengafirkan atau menyesatkan orang lain hanya karena perbedaan semisal dalam babagan ibadah (furu’iyyah)seperti soal tahlilan, shalawatan, istighasah dan lainnya yang saat ini tengah menjadi bahan persitegangan kembali antara kelompok Salafi -Wahabi dan NU. Tegasnya, umat Islam tidak akan gampang menuduh sesat terhadap mereka yang berseberangan yang hanya menguras energi secara sia-sia serta hanya mengulang sejarah kelam umat Islam terdahulu.

Idealnya, umat Islam selalu berpegang teguh pada prinsipra’yuna shawab yahtamil al-khata wa ra’yu ghairina khatha yahtamil alshawab (pendapat kami benar meski mungkin keliru, dan pendapat orang lain keliru tapi mungkin saja benar). Di altar lain, prinsip Aswaja akan berfungsi pula menjadi rujukan dalam memagari pemahaman yang serba menghalalkan segala cara(ibahiyyah).

Walhasil, prinsip-prinsip Aswaja sudah seharusnya terus dikembangkan sebagai basis moderatisme umat Islam dalam berselancar meningkahi perjalanan sejarahnya dari masa ke masa, baik dalam ranah sosial-politik maupun sosial-keagamaan. Tuntutan pembaruan dan keharusan berpijak di atas tradisi dan modernitas secara simultan saat ini kian niscaya untuk senantiasa dijadikan acuan sikap umat Islam Indonesia yang hidup di alam multikultural ini. Hanya dengan itu, ada jaminan umat Islam Indonesia akan mampu mempertahankan sikap moderat sekaligus tampil di barisan terdepan dalam turut serta menebar kedamaian dunia.

Tulisan ini sudah dimuat di harian Koran Jakarta, Sabtu, 22 Januari 2011

Jumat, 28 Januari 2011

Jangan Tertipu Gamis dan Jenggot

Jakarta, NU Online
Munculnya gerakan radikalisme dan terorisme di Indonesia yang meresahkan dan merenggut banyak korban jiwa adalah karena selama ini Nahdlatul Ulama tidak pernah diajak bekerjasama oleh Pemerintah. Demikian disampaikan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, kepada NU Online, 28 Desember 2010.

“Kenapa muncul Amrozi, Ali Gufron, Mukhlas, dan gerakan radikal lain? Jawabannya mudah, karena Nahdlatul Ulama tidak diajak bersama-sama membangun bangsa ini selama 32 tahun,” tegasnya. Lalu ia mencontohkan bahwa selama Orde Baru berlangsung, Menteri Agama, kepala kantor wilayah departemen agama hingga kepala madrasah tidak boleh dipegang orang NU.

Kang Said menambahkan, “Padahal khazanah keagamaan mereka sangat minim. Kalau hal ini terjadi di Jawa mungkin masih ditolerir, karena masih banyak kiai. Namun kalau di luar Jawa, mereka benar-benar menjadi satu-satunya tempat bertanya tentang agama.”

“Dalam satu, dua, hingga tiga kali ceramah mungkin penyampaiannya masih bagus. Namun di ceramah selanjutnya, karena minimnya pengetahuan mereka dan kehabisan bahan ceramah, maka yang disuarakan adalah, ‘awas ada kristenisasi’, ‘mari bakar gereja itu’, dan lain sebagainya,” tambah pria kelahiran Cirebon ini.

Untuk menutupi minimnya pengetahuan mereka, masih menurut Kang Said, mereka menutupinya dengan pakaian ala Arab. “Jangan mengira bahwa yang memakai gamis dan berjenggot itu hanya Nabi Muhammad, Abu Jahal pun juga bergamis dan berjenggot. Jadi jangan mudah tertipu dengan penampilan, karena belum tentu jelas pengetahuannya tentang Islam,” ujar Kang Said sambil tersenyum.

“Kesimpulannya, kalau Indonesia ini ingin selamat, NU harus diajak bersama-sama membangun bangsa ini,” pungkas Kang Said. (bil)