Kamis, 11 November 2010

Presiden dan Agama


Oleh Abdurrahman Wahid
BEBERAPA tahun yang lalu saya berada dalam sebuah seminar di Universitas Monash, Australia. Pokok pembicaraannya adalah "Perkembangan Politik di Indonesia". Ada pertanyaan dari peserta: "Mungkinkah seorang yang tidak beragama Islam menjadi presiden di Indonesia?" Penulis menjawab, kalau dilihat dari bunyi Undang-Undang Dasar '45 hal itu dapat saja terjadi.
Jawaban ini menimbulkan berbagai macam reaksi. Karena jawaban ini, ada yang menuduh penulis telah berkoalisi dengan Benny Moerdani dan mencalonkannya sebagai Presiden RI. Lebih dari itu bahkan ada yang menuduh penulis sebagai antek orang-orang non-Muslim. Sementara di sisi lain, mereka yang tulus pada UUD '45 melihat jawaban ini sebagai hal biasa.
Sebagaimana tertulis dalam UUD '45 yang memungkinkan adanya seorang non-Muslim menjadi presiden di belakang hari, karena Undang-Undang Dasar kita memang tidak pernah mempersoalkan agama seorang calon presiden. Sama halnya dengan Presiden John F Kennedy dari Amerika Serikat yang tidak beragama mayoritas di Amerika Serikat yaitu agama Kristen Protestan. Atau sebagaimana suara beberapa waktu yang lalu agar Colin Powell yang berkulit hitam itu menjadi presiden dari bangsa yang mayoritas berkulit putih. Dalam hal ini berlaku kenyataan, yang terpenting adalah bunyi undang-undangnya bukan sentimen yang terkandung dalam undang-undang itu.
Bagaimana halnya dengan negara kita? Jelas terjadi kemauan berbeda ketika membuat UUD '45. Dalam sejarahnya ada yang menginginkan UUD '45 berdasarkan agama, ada juga yang ingin mendirikan negara sekuler. Yang belakangan ini lebih sesuai dengan kenyataan, karena sebagian penduduk Indonesia hanya Islam dalam namanya saja. Mereka dilahirkan, dikhitan, dikawinkan dan dimakamkan dengan cara Islam. Selebihnya mereka tidak tahu apa-apa tentang Islam.
Walaupun demikian, mereka tidak mau disebut Islamnya kurang dari orang-orang yang sering pergi ke masjid, atau yang mengalami pendidikan agama (secara formal) lebih banyak. Mereka juga sama-sama merasakan keislaman yang intens, seperti halnya orang-orang yang memperoleh pendidikanagama cukup dan menjalankan syariah formal keislaman. Buktinya, mereka akan marah kalau dianggap sebagai bukan Muslim dan perasaan mereka akan tersinggung jika Islam disinggung dan dilecehkan. Jangan dikira ribuan orang yang mati mempertahankan keberadaan agama Islam di Indonesia adalah mereka yang mengerti sepenuhnya arti agama tersebut dalam kehidupan. Mereka bahkan rela mengorbankan jiwa untuk sesuatu yang tidak mereka mengerti, melainkan hanya mempertahankan nama belaka. 
Hal seperti ini juga terjadi di Irlandia, di mana orang-orang Katolik melakukan teror terhadap orang-orang Protestan, hanya karena sejarah yang mengarahkan mereka demikian. Bahkan dapat dipastikan orang Katolik saleh yang pergi ke gereja tiap Minggu tidak akan melakukan hal itu. Agama bagi mereka tidak identik dengan kekerasan.
***
DI sinilah letak penting dari hubungan antara agama dan negara. Mungkinkah agama memotivasikan orang untuk menampilkan kekerasan guna memperjuangkan cita-cita? Jawabnya mungkin saja. Orang-orang seperti SM Kartosuwirjo dapat berbuat demikian. Baginya, tidak penting mayoritas bangsa dapat menerima pikiran-pikirannya atau tidak, yang penting instrumen negara berada di tangan, dan dengan demikian secara
formal pejabat-pejabat negara berada di tangan, dan dengan demikian secara formal para pejabat negara berada di tangan orang-orang yang berasal dari agama Islam.
Ini yang membedakan dari Amerika Serikat maupun Indonesia yang berdasar UUD '45. Terlepas dari kemungkinan hal itu dapat terjadi secara historis atau tidak. Dengan menggunakan kata lain, di negeri kita atau di AS setiap orang dapat menjadi presiden. Dia dapat saja menunjuk menteri-menteri dari agama mana pun yang dikehendakinya. Inilah sebabnya di negeri kita selamanya ada menteri yang beragama Kristen, Katolik, Hindu, Buddha dan sebagainya.
Hal ini terjadi karena undang-undang yang ada memungkinkan hal itu, di samping itu juga untuk menampung jumlah mereka yang besar ataupun mengingat peranan kesejarahan mereka dalam membentuk negara bangsa Indonesia. Ini artinya kaum agama lain tidak tertinggal dalam perang merebut kemerdekaan. Dengan demikian mempertentangkan antara agama seseorang dengan suatu jabatan tertentu, lebih-lebih jabatan kepresidenan merupakan sesuatu hal yang naif, karena di samping bertentangan dengan Undang-Undang Dasar juga dapat melukai hati rakyat.
Sejarah telah memberikan corak yang lain terhadap kemerdekaan kita, yang harus dihormati oleh bangsa kita yang ingin maju. Kalau pikiran ini diterus-teruskan bukan tidak mungkin kita juga akan memberikan kedudukan kunci seperti Mendagri atau Menteri Keuangan kepada golongan minoritas seperti yang telah terjadi di Indonesia. Bukankah hal seperti ini telah terjadi di negeri Irak dengan Menteri Luar Negeri Thareq Azis yang beragama Kristen dan sekarang menjadi perdana menteri?
Berbagai kemungkinan ini yang terbayang di mata kita ketika membandingkan UUD '45 dengan UUD Irak. Ketika para pemimpin gerakan Islam seperti A Wahid Hasyim, menyetujui UUD '45 terlepas dari janji-janji lisan yang merupakan konvensi dan konsensus nasional, yang jelas redaksi UUD '45 memungkinkan munculnya aspirasi-aspirasi nonkeagamaan dalam perkembangan UUD itu sendiri. Ini kalau persoalannya kita serahkan kepada para ahli hukum yang berkecimpung dalam Mahkamah Agung.
***
INILAH yang membuat mengapa saya sebagai Ketua Umum PBNU memberikan jawaban sesuai dengan bunyi UUD '45 dalam seminar di Monash tersebut, saya memandang jauh ke depan dan tidak mau terikat dengan konvensi maupun janji-janji lisan. Bagi saya yang terpenting adalah kenyataan tertulis yang pada hakikatnya merupakan cermin dari komitmen bersama yang telah disepakati. Praktiskah saya, atau seorang yang berkhianat dari konvensi dan janji-janji lisan? Saya tidak ambil pusing karena bagaimanapun juga kita harus berpegang pada produk tertulis dalam kehidupan bernegara. Konvensi dan janji-janji lisan hampir tidak punya arti bagi pengendali organisasi yang tiap tindakannya memiliki akibat jauh ke depan. 
Inilah yang menjadi dasar jawaban penulis atas berbagai tanggapan dan asumsi masyarakat mengenai jawaban saya yang memperbolehkan seorang non-Muslim menjadi presiden di negeri ini. Ungkapan di atas
memang berasal dari penulis dan disadari sepenuhnya ketika diucapkan. Dengan kata lain ucapan itu harus diterima sebagaimana adanya. Upaya untuk menguranginya adalah sesuatu yang mengandung kepicikan pandangan yang tidak lain dalam jangka panjang akan menimbulkan kesulitan-kesulitan. Inilah suka duka kita sebagai bangsa. Daripada kita berdebat tentang tafsir suatu undang-undang demi memperjuangkan kepentingan sendiri, akan lebih baik kalau kita berlatih mendisiplinkan diri untuk taat pada undang-undang itu. Sebagaimana yang terjadi di negara-negara maju. Di negara maju ini masyarakat mencoba konsisten dan mendisiplinkan diri pada peraturan perundang-undangan. Alangkah naifnya jika kita masih terus sibuk merekayasa sebuah undang-undang dengan dalih demi menegakkan undang-undang, padahal yang sebenarnya hanya sekadar menyembunyikan kepentingan politik suatu golongan tertentu. Hingga akhirnya timbul banyak kerancuan; ungkapan yang benar dianggap salah tafsir, sedangkan yang sebaliknya dianggap kebenaran.
Pada kecenderungan ini pun dapat ditambahkan upaya untuk menyalahartikan ucapan yang tidak dimaksudkan oleh pengucapnya, melainkan oleh penafsirnya dianggap sebagai kesalahan ucap. Ketika penulis menyampaikan bahwa ada menteri Kabinet Reformasi yang terlibat dalam pembunuhan "tukang santet" di Jawa Timur banyak yang beranggapan bahwa ini salah tafsir. Padahal hal ini penulis sampaikan karena adanya beberapa laporan dari bawah. Tetapi ini tidaklah penting, karena sejarah akan membuktikan sendiri.
Untuk kembali pada pokok persoalan, yang penting adalah adanya teks tertulis dari undang-undang yang harus dipegang bersama. Warga negara tidak boleh menggunakan tafsiran berdasarkan apa yang mereka ingat, melainkan berdasarkan apa yang mereka baca. Ini penting sekali untuk memberikan penjelasan kepada teks undang-undang dasar. Sebuah sikap yang berbeda akan mengaburkan perbedaan pandangan jika tanpa didasari pada suatu yang jelas.
Kenyataan di atas inilah yang harus kita pegang, jangan sampai kita mengulangi hal yang sama, dilihat dari segala sudut gerakan Islam formalis berada pada posisi lemah. Baik keuangan, administratif maupun yang lainnya. Di samping itu mayoritas kehendak umat Islam yang cenderung kultural, tidak memandang formalisme Islam. Mereka justru lebih tertarik pada isu-isu kemanusiaan, demokratisasi, pemberdayaan masyarakat dan penguatan ekonomi rakyat. Dengan demikian formalisme Islam akan mendapat tantangan yang serius bahkan dari kalangan Islam sendiri. Inilah yang perlu kita renungkan lebih jauh dalam kehidupan berbangsa kita saat ini.
* KH Abdurrahman Wahid, Ketua Umum PBNU, pengamat sosial-politik

Sabtu, 06 November 2010

MWC NU Karangdadap kehilangan satu tokoh lagi...

 ولنبلونكم بشئ من الخوف و الجوع و نقص من الأموال والأنفس و الثمرات, وبشّر الصبرين الذين اذا اصابتهم مصيبة  قالوا انّا لله و انّا اليه راجعـون
Telah pulang ke Rohmatullah dengan tenang

Kyai Muhammad Zubaidi bin Muhammad Zain
(Syuriyah Awwal MWC NU Karangdadap) 
(Ketua Dewan Syuro DPAC PKB Kecamatan Karangdadap)
(Ketua Majlis Ulama Indonesia Kecamatan Karangdadap
(Pengurus Majlis Ulama Indonesia Kabupaten Pekalongan)


Meninggal pada hari SABTU PON tanggal 6 Nopember 2010 jam 18.10 WIB dalam perjalanan ke Rumah Sakit Siti Khotijah, dimakamkan pada hari AHAD WAGE tanggal 7 Nopember 2010 dalam usia 59 tahun (beliau lahir pada tanggal 10 April 1959)
Pengurus MWC NU Karangdadap sangat kehilangan karena beliau adalah satu satunya sesepuh NU yang tersisa dan merupakan harapan seluruh warga Nahdliyyin setelah meninggalnya K.H.Wasi`in bin Wasadi beberapa bulan yang lalu, mereka berdua sama sama kader NU yang senantiasa memperjuangkan kepentingan masyarakat wilayah kecamatan Karangdadap melalui jalur Jam`iyyah (organisasi masyarakat) maupun jalur politik (Parpol yang berfiliasi dengan NU)

Akhirnya kami ucapkan " Selamat Jalan Pak Kyai... Semoga semua amal perbuatanya  senantiasa diterima Allah SWT, dosa, kekhilafan  dan kesalahan,  mendapat Maghfiroh  dan di alam barzah ditempatkan di Pertamanan  SURGA Nya,  Amien ya Robbal `Alamien.
*********
Kyai Muhammad Zubaidi Zen dilahirkan pada tanggal 10 April 1951 di dukuh Karanganyar Lor desa Karangdadap Kecamatan Karangdadap, masa kanak kanak dan remaja gigih mencari ilmu agama dari pesantren satu ke pesantren lainya yang yang paling lama (15 tahun ) di Pondok Pesantren " Al Falah "  Lirboyo Kediri Jawa Timur (teman sekamar) Mbah K.H.Dimyatie Ro`is Pimpinan Pondok Pesantren Al Fadlu Kaliwungu Kendal
Beliau adalah salah satu tokoh dari beberapa tokoh yang berjasa di Karangdadap, tentu saja sebagai generasi penerus dari tokoh tokoh terdahulu.


Suasana menjelang Sholat Jenazah " Kyai Zubaidi Zen " di Masjid Karangdadap yang bludak, bahkan banyak yang rela sholat ber-alaskan sandalnya sendiri karena berada di halaman sekitar masjid (nampak berpakaian pramuka adalah siswa SMP NU Karangdadap) yang dikerahkan oleh gurunya untuk mengikuti sholat jenazah dengan berjalan kaki dari SMP NU  ke Masjid Karangdadap kurang lebih 1 Km

Sesaat setelah di sholatkan,  jenazah " Kyai Zubaidi " di berangkatkan ke peristirahatan terakhir 

Tokoh  desa Karangdadap dari waktu ke waktu
Mbah Kyai Romli (Pemangku Masjid pertama), Mbah Kyai Marzuki (Guru Salaf bagi tokoh tokoh Karangdadap), Mbah Kyai Zainal Mustofa (Pemangku Masjid sepeninggal Mbah Kyai Romli), Mbah Kyai Adnan (Tokoh MWC NU Karangdadap pertama) dulu namanya MWT NU (Majlis Wakil Tjabang Nahdlatul Ulama), Mbah Kyai Alwi Thohir (Pemangku Masjid sepeninggal Mbah Kyai Zainal Mustofa), Mbah Kyai Muhammad Zain / Ayah Kyai Zubaidi Zen (pemangku masjid sepeninggal Mbah Kyai Zainal Mustofa), Mbah Kyai Syamsuri (Tokoh MWC NU Karangdadap sepeninggal Mbah Kyai Adnan), Mbah K.H.Hasan Fasani (Tokoh NU dan pemimpin Thoriqot Al Mu`tabaroh Annahdliyah yang masa mudanya aktif di BANSER/GP Ansor dan berada di Garda depan dalam Penggayangan PKI tahun 65 an),  Kyai Zubaidi Zen (pemangku Masjid sepeninggal ayahnya),  Drs.Wahyuddin (tokoh muda karangdadap sebagai Pengurus Lembaga Pend Ma`arif MWCNU Karangdadap dan Pendiri PKBM Bangkit Kecamatan Karangdadap bersama Drs.H.Abdul Munir (Ketua LP Ma`arif MWC NU Karangdadap) dan ada satu tokoh desa Karangdadap (sepupu Kyai Zubaidi Zen) yang aktifitasnya diluar desa Karangdadap yaitu K.H.Muhammad Zainuri Zainal Mustofa, beliau menjadi tokoh dan masuk dijajaran pengurus  Syuriyah PCNU Kota Pekalongan
   

Makan bersama di sela sela Konferensi MWC NU Karangdadap XI (14 Maret 2010) searah jarum jam : Drs.H.Abdul Munir (Peng SMP NU Krg dadap), Kyai Zubaidi Zen (Syuriyah Tsani MWC), K.H.Wasi`in 
(Ro`is Syuriyah MWC) sesuai hasil Konferensi MWC NU Krgdadap XI

Sepulangnya dari Pondok Pesantren Lirboyo Jawa Timur, beliau diminta oleh K.H.Nahrowi (Pengasuh Pondok Pesantren Ribatul Muta`alimin) Landungsari Pekalongan untuk membantu menjadi salah satu pendidik di pondok tersebut, sebagai santri yang taat pada kyainya beliaupun Sam`an Wa To`atan (siap dan menyanggupinya) karena sebelum beliau nyantri di Lirboyo, beliau lebih dulu nyantri di pondok Ribatul Muta`alimin selama kurang lebih 6 tahun.
Kyai Zubaidi Zen banyak berkiprah dalam  masyarakat, baik di desa Karangdadap maupun diwilayah kecamatan Karangdadap secara umum sebagaimana yang tertulis diatas, beliau menduduki jajaran kepengurusan Syuriyah MWC NU Karangdadap, sebagai Ketua Dewan Syuro DPAC PKB Kecamatan Karangdadap, sebagai BADKO (Badan Koordinasi) Madin dan TPQ Kec.Karangdadap, sebagai Ketua MUI Kecamatan Karangdadap sekaligus jajaran Pengurus Cabang MUI Kabupaten Pekalongan 

Kyai Zubaidi Zen di mata masyarakat desa Karangdadap
  1. Orang yang arif dan bijaksana dalam menghadapi masyarakat terutama bila terjadi perbedaan pandangan baik dalam Kemasjidan maupun Kemadrasahan (MIS Karangdadap, seperti pada saat di dukuh guntur akan membangun masjid, sementara di desa karangdadap sudah ada masjid di dukuh Karanganyar, untuk mempersatukan umat beliau menggagas adanya Halal bi Halal masyarakat desa Karangdadap yang ditempatkan secara bergantian antara masjid Karanganyar (1) dan masjid Guntur (2) hingga sekarang 
  2. Pada saat "Jayanya Batik" karena MIS Karangdadap kekurangan lokal, beliau membantu hampir 90% biaya pembangunan tambah lokal satu kelas.
  3. Gigih dalam rangka melestariakan terlaksananya ajaran Ahlussunah Wal Jama`ah serta kegiatan ke NU an di masyarakat, terbukti dengan mendirikan Jam`iyyah "Nahdlatus Suban" sebagai wadah generasi muda NU yang tidak mau aktif di organisasi badan otonom NU seperti IPNU-IPPNU dan GP Ansor
Beliau adalah orang yang sangat menginginkan kemajuan NU baik secara Kultur (jama`ah) maupun organisasi (jam`iyyah) di desa Karangdadap, hingga meninggalnya hal ini belum terwujud terutama NU secara Jam`iyyah, oleh karenanya beliau berharap cita cita tersebut ada yang mewujudkanya terutama bagi generasi muda NU di desa Karangdadap

Selamat Jalan Pak Kyai..... semoga cita cita Panjenengan ada yang merealisasikan, karena tunas tunas muda di karangdadap sangat banyak baik kalangan santri maupun akademisi

ditulis oleh Sekretaris MWC NU Karangdadap 
berdasarkan beberapa informasi dari masyarakat  

Jumat, 05 November 2010

NU Peduli Bencana Merapi dan Mentawai
5 Nopember 2010 10:34:08 | Share
Letusan Merapi dan bencana tsunami di Mentawai menggugah kepedulian NU. Di Yogyakarta, sebuah pesantren NU, Pesantren Pandanaran berubah menjadi barak pengungsian. Ratusan warga dari desa sekitar Pandanaran sejak semalam (5/11) mengungsi ke Pesantren yang sebelumnya memang dijadikan posko PWNU Yogyakarta tersebut.
 
"Ada sekitar 100-200 pengungsi di sini, sebagian besar perempuan dan anak-anak. Tadi pagi lebih banyak," kata AS. Fauzi, perwakilan dari Posko Merapi PWNU Yogya.

Rentetan letusan yang menurut Badan Geologi merupakan yang terbesar dalam 100 tahun terakhir ini memang menimbulkan dampak yang luar biasa. 70 orang lebih dilaporkan meninggal. Hujan abu menyelimuti hampir seluruh Yogya. Desa-desa yang berada di lereng Merapi pun berubah menjadi desa mati. Gemuruh Merapi yang terjadi sepanjang malam membuat warga memilih menyingkir dari tempat tinggal masing-masing. Radius bahaya Merapi juga ditingkatkan, dari 15 menjadi 20 kilometer.

Pesantren Pandanaran yang berada di radius 26 kilometer dari puncak Merapi menjadi salah satu tempat yang dituju warga untuk mengungsikan diri dan keluarganya. Pesantren pun diliburkan sejak tadi pagi. "Saat ini desa sekitar Pandanaran sudah sepi. Hanya ada beberapa warga pria yang masih bertahan. Aktivitas pesantren pun sepi karena sebagian besar santri pulang ke rumahnya masing-masing tadi pagi, yang kini digantikan oleh pengungsi," imbuh Fauzi.

Terkait dengan kebutuhan di barak pengungsian, Fauzi menjelaskan bahwa warga sangat membutuhkan makanan siap saji seperti nasi bungkus dan sejenisnya. Selain itu masker dan obat-obatan, khususnya obat sesak nafas. "Aroma belerang sangat kuat, jadi banyak yang mengalami gangguan pernafasan," katanya.

Bantuan dari PBNU Berbasis Kebutuhan 
Bantuan yang diberikan untuk para pengungsi korban letusan Gunung Merapi yang berasal dari PBNU diberikan dalam bentuk kebutuhan yang sangat diperlukan oleh para pengungsi dan pembeliannya diserahkan langsung kepada para pengungsi.

Ketua LAZNU KH Masyhuri Malik menjelaskan, selama ini terdapat kecenderungan lembaga-lembaga donor langsung memberikan bantuan sesuai dengan persepsi pemberi bantuan, padahal ada kebutuhan lain yang belum tercukupi.

Bantuan yang biasanya langsung diberikan kepada para pengungsi berupa mie instant, air minum dalam kemasan, dan pakaian bekas. Karena bantuan yang diberikan hampir sama, akhirnya bantuan menumpuk sementara terdapat kebutuhan lain yang dilupakan, apalagi jika tidak ditunjang system distribusi yang merata, sehingga ada lokasi pengungsian yang kelebihan dan ada daerah lain yang kekurangan.

Hari Kamis (28/10) atau dua hari setelah Merapi meletus, LAZNU, yang mengemban amanat dari PBNU untuk melakukan reaksi cepat telah berangkat ke Yogyakarta. KH Masyhuri Malik dan H Amir Makruf, direktur LAZNU turun langsung ke basis pengungsian warga NU di Pesantren Pandanarang Sleman dan kantor PCNU Magelang.

Untuk bantuan tanggap darurat tahap pertama tersebut, pengungsi di Pesantren Pandanarang mendapatkan sumbangan dana secara langsung sebesar 16 juta sedangkan di posko pengungsian Dukun Magelang mendapatkan bantuan 11 juta. Masing-masing satu juta telah dibelikan barang untuk simbolisme penyerahan.

“Kita berikan bantuan secara langsung berupa uang tunai karena kita percaya kepada mereka dan yang mengelola juga para aktifis NU sendiri,” kata Amir, Senin.

Oleh para pengungsi, bantuan tersebut dibelikan berbagai kebutuhan yang belum terpenuhi seperti pembalut wanita, masker, dan bumbu masak, yang selama ini tidak terfikirkan oleh pemberi sumbangan lainnya.

Kiai Masyhuri menambahkan, para relawan yang bekerja untuk membantu para pengungsi juga membutuhkan dana taktis, yang selama ini kurang terfikirkan. “Mereka membantu para pengungsi, tetapi nasib mereka sendiri tidak ada yang ngurus,” katanya.

Amir menjelaskan, setelah masa tanggap darurat ini selesai, banyak sekali pekerjaan yang harus dilakukan oleh PBNU untuk membantu komunitasnya. “Bukan hanya membantu membangun kembali musholla, masjid dan pesantren, tetapi juga mengembalikan suasana religiusitas yang dulu hidup di lingkungan tersebut,” katanya.

Kiai Masyhuri menjelaskan pengurus dan warga NU sangat antusias atas reaksi cepat yang sudah dilakukan PBNU untuk membantu warganya yang terkena bencana. “Kiai Afifuddin, ketua PCNU Mageleng bilang sangat berterima kasih atas bantuan yang cepat dan kongkrit dari PBNU,” tandasnya.

Bagi masyarakat yang ingin menyumbang untuk korban bencana Alam, dana bisa dikirimkan ke Rek. LAZISNU BCA 6340.161.481 Mandiri 123.000.483.89.77, atau datang ke kantor sekretariat LAZNU di Gedung PBNU Lt 2 Jl Kramat Raya 164 Jakarta Pusat 10430, telp 021-27295905.

PWNU Daerah Istimewa Yogjakarta membuka lima posko di sekitar Merapi. Pos Utama di Pesantren Pandanaran, posko yang lain di antaranya: terletak di Pakem Km.17 yang dikelola oleh Ansor DIY. Satu Posko cabang diantaranya berada di Wukirsari, Cangkringan yang ditangani oleh PMII dan KMNU UGM, serta KODAMA (Korps Dakwah Mahasiswa).

Sementara PWNU membuka beberapa posko, LAZIS NU dan RMI ikut membantu mendistribusikan bantuan logistik ke barak-barak pengungsian. “Agar efektif, kami aktif menyalurkan langsung bantuan ke barak-barak pengungsian di sekitar Merapi,” tutur Zar’an, salah seorang pengurus RMI.

Sementara itu salah satu relawan dari NU Yogjakarta menyatakan bahwa NU akan fokus pada bantuan pasca bencana dua minggu ke depan sebab bantuan baik berupa logistik dan relawan telah berlebih.

“Kami, di posko Wukirsari, merencanakan untuk mengisi kekurangan dalam penyaluran bantuan. Ada beberapa pengungsi yang tinggal di rumah-rumah warga, dan itu belum ter cover oleh barak utama. NU akan menyalurkan bantuan kepada mereka,” katanya.
NU Australia Adakan Tahlil dan Pengumpulan Dana 
Tiga bencana besar yang melanda Indonesia, yaitu Wasior, Mentawai dan Merapi menimbulkan keprihatinan mendalam bagi warga NU yang ada di Australia.

Para pengurus NU Australia yang tinggal di Adelaide mengadakan doa bersama, tahlil dan manaqil Syeikh Abdul Qadir Jailani memohon kepada sang pencipta agar bangsa ini dijauhkan dari berbagai bencana alam, yang digelar berbarengan dengan disetujuinya thesis Yuyun Sunesti, salah satu mahasiswa Indonesia yang belajar di Adelaide, Ahad (30/10).

Pada kesempatan tersebut, juga dilakukan shalat ghaib bersama serta muhasabah dengan mengajak hadirin untuk bearing witness, yakni kemampuan untuk mentransformasi perasaan duka yang sedang dialami oleh saudara- saudara yang tertimpa musibah ke dalam diri kita.

“Cara seperti ini diyakini akan meningkatkan kepekaan kita terhadap penderitaan saudara yang lain, sekaligus mengingatkan bahwa kita punya peran dan andil untuk meringankan beban mereka tersebut,” kata HM Adib Abdushomad, katib syuriah NU-ANZ.

Menurut Adib yang sedang menumpuh PhD di bidang Pubic Policy di Flinders University ini menyatakan bahwa ada dua pilihan,

“Apakah kita mau masuk ke dalam dan merasakan kepedihan mereka atau pura-pura tidak tahu, sebagaimana ditunjukkan oleh para wakil rakyat yang sedang bepergian di tengah-tengah bencana dengan alasan studi banding. We can run away, or we can turn toward,”.

Selain itu pada acara ini juga dkumpulkan dana untuk membantu meringankan para korban bencana. Untuk sementara dana yang terkumpul mencapai 240 Dolar Australia, hasil pengajian di rumah Zainal, 180 Dolar dan bantuan yang sudah masuk melalui rekening sebenar 60.


NU Mentawai Salurkan Bantuan PBNU 
Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Mentawai menyalurkan bantuan dari Ketua Umum Tanfidziyah PBNU KH Said Aqil Siradj yang diserahkan pada Ahad (31/10) malam kemarin di sela-sela pelantikan Ketua PWNU Sumbar, di Hotel Pangeran. Bantuan lainnya diperoleh dari Ketua Fraksi PKB DPR RI Marwan Ja'far.

"Bantuan ini akan memperkuat relawan PCNU yang sudah diterjunkan ke lokasi bencana gempa dan tsunami. PCNU menyampaikan terima kasih kepada PBNU dan FKB DPR RI yang sudah memberikan bantuannya," kata Ketua Tanfiziyah PCNU Kepulauan Mentawai Muh. Khusni Nasirun yang didampingi Ketua Ikatan Pelajar NU Mentawai Ory Sativa.

Kepada kontributor NU Online Bagindo Armaidi Tanjung di Padang, Kamis (4/11), Khusni menyebutkan masing-masing berjumlah Rp. 10.000.000.

Khusni Nasirun menyebutkan, paska Gempa dan tsunami sudah mengirimkan 6 orang relawan ke lokasi bencana, Pengiriman relawan tersebut diharapkan dapat membantu rehabilitasi korban bencana gempa dan tsunami di kepulauan Pagai tersebut.

PCNU Kepulauan Mentawai, sebelumnya bersama PMDA dan masyarakat menggelar do'a bersama di dermaga Tuapejat, dihadiri ratusan masyarakat dari berbagai lintas agama. Dalam kegiatan tersebut mereka mendoakan, agar korban bencana yang telah meninggal diampuni oleh Allah segala dosanya dan diterima segala amal baiknya.

Dalam waktu dekat, PCNU Mentawai segera mendistribusikan bantuan yang diterima kepada yang berhak. "Kita masih menunggu informasi dari relawan NU yang berada di lokasi sejak dua hari lalu. Apa-apa saja yang sangat dibutuhkan disana dan sesuai dengan kemampuan PCNU Mentawai," tambah Khusni. (www.nu.or.id)